OSTEOPOROSIS

KOMPAS.com – Osteoporosis, penyakit kerapuhan tulang yang bisa menyebabkan tulang patah, kini makin banyak diderita orang berusia produktif. Padahal sebenarnya penyakit ini bisa dicegah dengan menjalankan pola hidup yang sehat, salah satunya mencukupi kebutuhan kalsium dan vitamin D.

Kunci untuk mencegah penyakit osteoporosis adalah memahami fakta yang benar. Felicia Cosman, MD, profesor kedokteran klinis dari Columbia University, dan Richard S. Bockman, MD, PhD, kepala pelayanan endokrin dari Weill Cornell Medical College, akan mengungkap secara terpisah soal mitos dan fakta tentang osteoporosis:

1. Mitos: Anda tahu akan mengalami osteoporosis karena rasa sakit yang dirasakan di tulang

Faktanya: Kerusakan awal pada tulang terkait osteoporosis biasanya tidak menimbulkan suatu gejala. Seseorang akan merasa dirinya baik-baik saja sampai akhirnya mengalami patah tulang tak terduga atau kesulitan berdiri. Kabar baiknya, saat ini sudah tersedia alat untuk mengukur kepadatan tulang sehingga pengobatan dapat diberikan lebih awal untuk hasil terbaik.

2. Mitos: Hanya orang tua yang berisiko osteoporosis

Faktanya: Meskipun risiko fraktur (patah) tulang baru muncul di kemudian hari, namun 80 persen risiko osteoporosis disebabkan karena pengaruh faktor genetik. Meski begitu, tidak ada kata terlambat untuk memulai memelihara kesehatan tulang, terutama jika Anda memiliki riwayat keluarga osteoporosis. Untuk menjaga tulang tetap sehat, cukupilah kebutuhan kalsium dan vitamin D melalui makanan dan paparan sinar matahari. Dukung dengan olahraga sesering mungkin dan menghindari merokok dan konsumsi alkohol yang berlebihan.

3. Mitos: Osteoporosis tidak seserius penyakit lain seperti jantung dan kanker.

Faktanya: Osteoporosis dapat mematikan. Dampak kecil dari patah tulang dapat memicu berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan neurologis (saraf), kardiovaskuler dan bahkan psikologis. Rasa nyeri berkelanjutan dan terbatasnya ruang gerak akibat patah tulang dapat mengurangi kualitas hidup seseorang. Hanya 15 persen dari orang tua korban patah tulang yang dapat terus bertahan dan mandiri.

4. Mitos: Pria tidak mengalami osteoporosis

Faktanya: Para pria umumnya memiliki kondisi tulang yang lebih kuat dan kecil kemungkinan untuk mengalami patah tulang ketimbang perempuan. Namun rendahnya tingkat testosteron dan estrogen, bisa membuat pria tua rentan terhadap patah tulang.

5. Mitos: Semua orang sama-sama berisiko osteoporosis seiring bertambahnya usia

Faktanya: Risiko osteoporosis lebih tinggi pada mereka yang berbadan kurus dan berkulit putih (ras Kaukasia). Risiko lebih besar juga ada pada perempuan dengan tingkat estrogen lebih rendah atau mengalami menopause dini. Bahkan pada beberapa orang yang menjalani terapi hormon untuk mengobati kanker tertentu – seperti payudara dan prostat – juga dapat meningkatkan risiko ini.

6. Mitos: Mustahil untuk mengembalikan tulang yang sudah keropos

Faktanya: Sangat mungkin untuk menghentikan atau membalikkan keropos tulang. Beberapa penelitian dalam pengobatan osteoporosis telah dilakukan selama 10-15 tahun terakhir. Pengobatan jangka pendek dengan anti-resorptive (terapi penggantian hormon) dapat membantu mempertahankan massa tulang yang ada. Bahkan beberapa agen baru dapat membangun terbentuknya tulang sehingga membantu Anda untuk bisa terus menapakkan kaki di tanah selama mungkin.

Penyakit osteoporosis selama ini memang identik diderita oleh kalangan usia lanjut. Namun, ini bukan berarti semakin tua usia seseorang semakin mudah pula mereka menderita osteoporosis.

“Osteoporosis itu bukan penyakit tua. Memang lebih banyak diderita pada orang tua, tapi penyakit ini bisa dicegah,” kata Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan, Ekowati Rahajeng saat acara temu media dengan tema “Cintai Tulangmu Cegah Osteoporosis”, di Jakarta, Jumat.

Osteoporosis sering disebut sebagai silent disease. Si penderita biasanya tidak merasakan nyeri atau gejala apa pun sampai pada akhirnya mengalami patah tulang. Eko mengatakan, berdasarkan data Puslitbang Gizi Departemen Kesehatan dan Persatuan Osteoporosis Indonesia (Perosi), perempuan memiliki angka kejadian lebih tinggi mengalami osteoporosis ketimbang laki-laki.

Bahkan, diperkirakan pada 2015 jumlah perempuan dengan osteoporosis di Indonesia meningkat menjadi 24 juta orang.

Kalsium saja tak cukup

Selama ini, kata Eko, masih banyak warga yang beranggapan, kalau sudah mengonsumsi kalsium, maka dapat dipastikan bebas dari ancaman osteoporosis. “Padahal, walaupun konsumsi kalsium tinggi, tapi kalau tidak diimbangi makan sayur dan buah tidak akan efektif karena buah dan sayur sangat diperlukan untuk metabolisme,” paparnya.

Ia mengungkapkan, asupan kalsium orang Indonesia saat ini masih sangat rendah dibandingkan dengan jumlah yang dianjurkan. Rata-rata orang dewasa di Indonesia baru memenuhi asupan kalsium sebesar 270-300 mg per hari, padahal jumlah yang dianjurkan menurut standar internasional adalah 1000-1200 mg per hari.

Untuk memenuhi asupan kalsium, tidak harus selalu dengan mengonsumsi susu saja karena masih banyak makanan sumber kalsium lain seperti ikan teri dan kacang-kacangan.

“Dalam mencegah osteoporosis, pemenuhan gizi saja tidak cukup tanpa dibarengi latihan fisik, paparan sinar matahari yang cukup, serta yang paling penting stop merokok,” tegasnya.

Eko mengatakan, kebanyakan orang belum sadar bahwa rokok juga dapat menjadi salah satu faktor pencetus keroposnya tulang. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan, kandungan tar dan nikotin dapat sangat mengganggu metabolisme penyerapan dari kalsium.

“Hal-hal seperti ini diharapkan semakin disadari masyarakat sehingga dapat tersosialisasikan dengan baik,” tandasnya.

Banyak cara yang dapat dilakukan oleh para wanita dewasa untuk mencegah terjadinya osteoporosis atau pengeroposan tulang.  Di antara mereka, ada yang rutin melakukan latihan, meminum susu tinggi kandungan kalsium, menggunakan suplemen, atau pun melakukan diet khusus.

Tetapi kini ada cara yang lebih simpel dan mungkin perlu dipertimbangkan.  Cara tersebut yaitu mengonsumsi buah plum. Menurut penelitian terbaru,  para wanita yang rutin mengonsumsi buah plum tampaknya bisa memperoleh manfaat untuk kesehatan tulangnya. Plum yang juga dikenal memiliki senyawa anti-kanker ini ternyata dapat meningkatkan kepadatan tulang dan menurunkan risiko terkena osteoporosis.

Para ahli dari Florida State and Oklahoma State University melakukan percobaan dengan melibatkan 100 wanita pascamenopouse. Sebanyak 55 wanita diminta untuk mengkonsumsi 100 gram plum setiap hari selama 12 bulan, sementara sisanya diminta mengkonsumsi 45 gram apel kering sebagai pengganti plum. Setiap hari, peserta juga menerima suplemen mengandung 500 mg kalsium dan vitamin D sebanyak 400IU.

Hasil analisis menunjukkan bahwa, wanita yang mengkonsumsi plum memilki kepadatan tulang lebih tinggi pada bagian ulna (tulang lengan) dan tulang belakang dibandingkan dengan mereka yang mengkonsumsi apel.

Salah satu peneliti, dr. Bahram Arjmandi percaya, mengkonsumsi plum dapat membantu menekan laju resorpsi (kerusakan) tulang, yang biasanya melebihi laju pertumbuhan tulang baru pada orang tua.

“Selama saya berkarir, saya telah menguji beberapa buah, termasuk di antaranya buah ara, kurma, stroberi, dan kismis, dan tidak satupun dari buah-buahan tersebut memiliki efek kepadatan tulang, tetapi plum kering atau plum memilikinya (efek kepadatan tulang),” ujarnya.

Ilmuwan, yang temuannya dipublikasikan dalam British Journal of Noutrition, menggambarkan efek dari plum untuk kesehatan tulang sebagai hal yang luar biasa dan mendesak orang untuk mulai mengkonsumsi buah tersebut setiap harinya.

Selain menopang tubuh, tulang juga berfungsi sebagai tempat menyimpan mineral tubuh yang penting. Karenanya tulang harus dijaga, salah satunya dengan memperhatikan asupan makanan.

Makanan yang tinggi kalsium dibutuhkan untuk meningkatkan kepadatan tulang, tetapi ada beberapa jenis makanan dan minuman yang harus dihindari karena mempercepat kerapuhan tulang dengan cara melepaskan mineral. Apa saja makanan tersebut?

1. Soft drinks

Minuman berkarbonasi mengandung asam fosfat yang akan meningkatkan laju pengeluaran kalsium melalui urin. Ditambah lagi, sebagian besar penyuka minuman soda pada umumnya menghindari minuman yang kaya kalsium seperti susu.

2. Garam

Garam, atau lebih khusus natrium, menyebabkan hilangnya kalsium dan perlahan-lahan mengurangi kepadatan tulang. Menurut para ahli, Anda akan kehilangan sekitar 40 miligram kalsium dalam urin untuk setiap 2.300 miligram natrium, jumlah sodium yang harus dipenuhi dalam sehari.

Dalam sebuah penelitian terhadap wanita menopause ditemukan bahwa wanita yang menjalani diet tinggi natrium kehilangan mineral tulang yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang tidak.

Perlu diwaspadai bahwa garam juga muncul dalam hampir semua makanan olahan seperti roti gandum, sosis, sereal dan makanan cepat saji yang mengandung 75 persen dari total konsumsi natrium harian.

3. Kafein

Kafein juga memiliki efek meningkatkan pengeluaran kalsium tulang. Selain kopi, cukup banyak makanan dan minuman yang mengandung kafein tinggi, misalnya minuman energi (sekitar 80 mg per kaleng). Persoalan bertambah berat karena kafein memiliki efek kecanduan sehingga agak sulit untuk beralih pada pilihan yang lebih sehat.

4. Alkohol

Penelitian menunjukkan bahwa asupan alkohol yang berlebihan mempengaruhi kesehatan tulang dan meningkatkan risiko osteoporosis di kemudian hari. Konsumsi alkohol berlebihan akan mengganggu kerja pankreas dan penyerapan kalsium serta vitamin D.

Beberapa penelitian juga menemukan bahwa alkohol menurunkan hormon estrogen pada wanita dan dapat menyebabkan menstruasi tidak teratur. Penurunan kadar estrogen akan memicu proses remodeling atau pembentukan kembali tulang.

5. Vitamin A

Vitamin A yang ditemukan dalam telur, hati dan susu mengandung lemak sangat baik untuk sistem kekebalan tubuh dan penglihatan. Tetapi sebuah penelitian yang diterbitkan di The New England Journal of Medicine menemukan bahwa asupan vitamin A yang berlebihan dapat meningkatkan risiko patah tulang sebanyak tujuh kali, terutama mereka yang mengonsumsi suplemen vitamin A. Meski begitu vitamin A dalam dosis kecil tetap penting bagi tubuh.

6. Trans fat

Penelitian menunjukkan bahwa vitamin k akan hancur ketika minyak sayur cair diubah menjadi minyak padat dengan proses hidrogenasi. Vitamin K diperlukan untuk penyerapan kalsium dan tulang yang kuat. Ia bisa didapatkan dari sayuran berdaun hijau dan minyak nabati seperti minyak kanola dan zaitun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s