Industri Rokok Dituding Tidak Peduli Petani Tembakau

JAKARTA (Pos Kota) – Industri rokok dituding tidak mempedulikan nasib petani tembakau yang membuat mereka kaya raya. Nasib petani tembakau di Indonesia masih sangat memprihatinkan.

“Bahkan, petani tembakau sering dimobilisasi oleh industri tembakau untuk melakukan demonstrasi menolak kebijakan antirokok,” tandas Abdillah Salam, peneliti Lembaga Demografi FEUI dalam acara diskusi mengenai Konsumsi Rokok Mengancam Bonus Demografi di Jakarta.

Menurut Abdillah, petani tembakau selama ini selalu dijadikan alasan untuk menggagalkan peraturan pengetatan promosi dan konsumsi rokok.
Kenyataannya, petani tembakau kurang mendapat perhatian yang layak dari industri rokok dibandingkan jumlah keuntungan yang dihasilkan dari penjualan rokok.

Padahal dalam setahun saja, pemasukan pemerintah dari cukai rokok bisa mencapai Rp70 triliun. Maka bisa dibayangkan berapa banyak omzet yang diperoleh perusahaan rokok per tahunnya.

Dan yang lebih menyedihkan, belakangan ini justru perusahaan rokok lebih memilih tembakau impor dibanding tembakau lokal untuk menghasilkan produknya.

Menurut Abdillah, tahun 1990, total impor tembakau di Indonesia adalah 18 persen. Pada 2010 jumlahnya meningkat menjadi 50 persen dari total konsumsi tembakau.

Abdillah menuturkan, seharusnya peningkatan jumlah lahan meningkat seiring kenaikan permintaan akan rokok. Tapi nyatanya jumlahnya malah menurun. Kalau pemerintah ingin mengambil kebijakan ekstrem, harusnya dilarang impor tembakau.

Di Indonesia, sentra tembakau banyak berpusat di Jawa Tengah, JawaTimur dan NTB. Bukti bahwa industri rokok tidak berpihak kepada petani bisa dilihat dari penentuan harga. Selama ini, yang menentukan harga jual tembakau adalah perusahaan rokok dan petani harus patuh pada ketentuan dari perusahaan.

Ketika petani sedang panen, harga tembakau cenderung turun. Perusahaan beralasan gudangnya sudah penuh sehingga petani terpaksa mau tak mau harus mengikuti harga yang diberikan perusahaan.

“Saya pernah mewawancarai petani pada tahun 2010. Ia telah menanam tembakau sejak tahun 2002 sampai 2008. Selama rentang waktu itu, ia hanya untung waktu tahun 2003. Tapi masalahnya karena mereka tak punya alternatif lain,” kata Abdillah.

Sumber :

http://www.poskotanews.com/2012/11/08/industri-rokok-dituding-tidak-peduli-petani-tembakau/

Analisis :

Menurut saya nasib petani tembakau sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, perusahaan industri rokok memperlakukan petani secara tidak adil. Perusahaan melakukan banyak penyimpangan kepada para petani tembakau. Salah satunya adalah dengan membeli hasil panen tembakau petani dengan harga yang murah. Keuntungan yang didapat dari hasil panen cenderung kecil bahkan banyak diantara mereka yang mengalami kerugian. Hal ini berbanding terbalik dengan perusahaan industri rokok. Omset yang mereka dapat dari hasil penjualan rokok sangat tinggi, sehingga perusahaan bisa mengeruk keuntungan yang besar. Tingkat kesejahteraan para petani tembakau tidak dipedulikan oleh perusahaan. Pemerintah seharusnya memberikan tindakan tegas untuk perusahaan. Pemerintah harus membuat peraturan perundang-undangan yang melindungi hak-hak para petani tembakau, termasuk didalamnya tentang kebijakan harga beli tembakau perusahaan kepada para petani. Jika ada peraturan yang mengikat maka tidak akan ada lagi perusahaan yang berani memperlakukan petani secara tidak layak. Dengan begitu petani tembakaupun bisa hidup dengan sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s