Pertanian: Mimpi Swasembada Pangan (II)

Kalau sudah begitu, di masa yang akan datang, persentase tenaga kerja yang bekerja di sektor pertanian akan terus menurun. Kemudian bagaimana nasib mimpi ketahanan pangan yang selama ini didengungkan pemerintah. Seperti yang kita ketahui, pemerintah menargetkan tahun 2014  akan tercapai swasembada pangan, terutama pada lima komoditas utama yakni beras, jagung, gula, kedelai dan daging sapi.

Dari lima komoditas pangan tersebut, kedelai menjadi pekerjaan rumah yang paling berat untuk diselesaikan. Produksi kedelai dalam negeri baru mencukupi 35% kebutuhan nasional, selebihnya impor. Sehingga tidak mengherankan jika terjadi krisis seperti yang terjadi belum lama ini yang disebabkan gagal panen pada negara produsen kedelai.

Sedangkan komoditas pangan lainnya hanya beras yang sudah mencapai swasembada, meskipun masih tergolong rawan karena masih separuh dari jumlah surplus yang pemerintah targetkan, dengan surplus sebesar 5 juta ton. Sementara produksi daging sapi, dan gula hampir mendekati swasembada dengan produksi yang sudag mencukupi 80% dan 85% kebutuhan nasional.

Setelah beberapa kali mengalami gejolak beberapa komoditas pangan, dan yang terakhir krisis kedelai yang terjadi belum lama ini menjadi indikasi betapa rapuhnya ketahanan pangan di Indonesia. Sayangnya, untuk mengatasi krisis tersebut, pemerintah memilih impor sebagai jalan keluar. Pemerintah sendiri mengakui bahwa impor sering kali lebih menguntungkan. Jika begini ketahanan pangan nasional akan bergantung pada faktor eksternal yang tidak dapat diprediksi.

Impor pangan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan serta menstabilisasi harga pangan yang kian mahal. Dalam pidato menyambut peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke-67, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), SBY menyebutkan bahwa era harga pangan murah telah berakhir dan dibutuhkan optimalisasi sumber daya domestik untuk menyediakan ketersediaan pangan.

Sayangnya upaya optimalisasi sumber daya tersebut terkesan setengah hati. Upaya perluasan lahan pertanian, misalnya, hingga kini berjalan sangat lambat. Wakil menteri pertanian Rusman Heriawan malah mengatakan di Indonesia yang terjadi bukan perluasan lahan pertanian, tetapi yang terjadi justru penurunan.

Lahan pertanian di Indonesia luasnya sekitar 13 juta hektare, sementara jumlah petani tanaman pangan mencapai 30 juta orang. Maka luas lahan yang digarap seorang petani hanya seluas 0,43 hektare. Dengan banyaknya hambatan yang harus dihadapi petani, tidak mengherankan jika produktivitasnya. kecil.

Kebijakan

Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, dibutuhkan kebijakan revolusioner dari pemerintah. Pemerintah wajib memberikan perhatian lebih pada sektor pertanian dibandingkan sektor ekonomi lainnya. Karena dengan jumlah penduduk yang terus bertambah, kebutuhan pangan akan terus meningkat. Dan bukan suatu hal yang mustahil jika harga komoditas pertanian nantinya akan lebih mahal dibandingkan komoditas non pertanian karena tingkat permintaan yang sangat tinggi.

Kebijakan pemerintah harus berorientasi pada petani, mulai dari pengadaan lahan pertanian, dukungan pada proses produksi, hingga saluran penjualan hasil panen yang jelas karena petani lebih sering menjual hasil panennya pada tengkulak dengan harga yang rendah, serta kebijakan harga pangan. Kebijakan ini tidak hanya akan meningkatkan produktivitas petani, tapi juga sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka, sebagai aktor penting dalam perekonomian.

Sumber :

http://wartaekonomi.co.id/berita5083/pertanian-mimpi-swasembada-pangan-ii.html

Analisis :

Menurut saya swasembada pangan sebagai perwujudan ketahanan pangan sangatlah penting untuk pemenuhan kebutuhan dasar. Mewujudkan swasembada pangan memang tidak mudah namun kitapun tidak boleh menyerah dan hanya menjadikan swasembada pangan hanya sebagai mimpi/angan-angan saja. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mewujudkannya. Peningkatan jumlah produksi pertanian, perluasan lahan, penggunaan teknologi modern, merupakan beberapa cara yang bisa ditempuh. Keberhasilan swasembada pangan bukan hanya berada ditangan rakyat saja tetapi pemerintah juga turut ikut andil. Hasil dari swasembada pangan diharapkan bukan hanya dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri saja, namun kebutuhan luar negeri (impor) juga bisa dicapai.

 

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s